Santriwati Ponpes Al-Amanah Berpotensi Jadi Penulis Hebat
Tue, 11 Sep 2018 Admin Admin

Langit sudah menjelang sore. Suhu udara di Liabuku, Bungi, Kota Baubau juga terasa mulai dingin. Sekira pukul 16.30 WIB pada Minggu, 9 September 2018 Pondok Pesantren Putri Al-Amanah kedatangan dua tamu penting bersama rombongan keluarganya. Dua tamu penting tersebut adalah Sabir Laluhu dan Okky Madasari.

Sabir adalah lulusan Pondok Pesantren Modern Al-Syaikh Abdul Wahid, Bataraguru, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Kini dia berkiprah sebagai jurnalis Koran Sindo dan penulis buku ‘Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi’. Sedangkan Okky merupakan novelis berkaliber nasional dan internasional. Okky pun pernah menjadi jurnalis yang meliput di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pos liputan ini yang menghuhungkan Okky dengan Sabir Laluhu. Okky generasi pertama, sedangkan Sabir generasi ketiga atau generasi transisi. Keduanya terhubung juga dalam satu buku antologi tulisan bersama 29 jurnalis lain yakni ‘Serpihan Kisah Jurnalis Tiang Bendera’.

Kehadiran Sabir dan Okky guna berbagi pengalaman dan belajar bersama lebih 100 satriwati Pondok Pesantren Putri Al-Amanah dalam pelatihan dasar jurnalistik. Pelatihan ini dimoderatori oleh ustadzah Lina Laluhu (alumnus jurnalistik IAIN Ambon) dan dihadiri juga pengasuh pesantren ustadzah Nurmarlina Sabirin.

Sebelum acara dilangsungkan, ada kejutan dari pengasuh pesantren ustadzah Nurmarlina Sabirin, para ustadzah, dan santriwati. Mereka membuat nasi tumpeng dan kue ulang tahun disertai perayaan ulang tahun ke-4 Mata Diraya, anak dari Okky Madasari. Mata Diraya yang karib disapa Raya bersama Okky dan suami Okky, Abdul Khalik tampak senang, bergembira, dan tersenyum lebar serta larut dalam perayaan.

Berikutnya Okky Madasari memulai pemaparannya dengan kekaguman Okky atas kondisi pesantren, antusiasme, dan kegigihan para santriwati dalam menempuh pendidikan. Okky menceritakan, hakikatnya menjadi seorang penulis bisa dimulai sejak dini yakni di bangku sekolah. Okky mencontohkan, dirinya suka menulis dan merasa hal tersebut menjadi bakat dan anugerah dari Allah s.w.t sejak Okky di bangku SMP, di Magetan, Jawa Timur.

Seorang penulis termasuk novelis, tutur Okky, mampu menghasilkan karya yang melampaui batas-batas wilayah dan zaman. Dengan karya novelnya, Okky bahkan bisa ada dan mendatangi berbagai wilayah di belahan dunia mulai dari Amerika Serikat hingga Singapura. Novel-novel karya Okky bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Arab.

Novel-novel Okky di antaranya ’86’, ‘Entrok’, ‘Maryam’, ‘Pasung Jiwa’, ‘Kerumunan Terakhir’, ‘Mata di Tanah Melus’, hingga ‘Mata dan Rahasia pulau Gapi

Menurut Okky, kondisi dan kehidupan selama di pesantren termasuk di Pondok Pesantren Putri Al-Amanah kaya dengan inspirasi sumber tulisan. Mulai dari aktivitas sehari-hari, proses belajar mengajar, persahabatan dan percintaan, hingga disiplin, hingga pengalaman. Okky mengungkapkan, ketika ingin menuliskan setiap novelnya dirinya harus mencari inspirasi tentang tema yang akan ditulis. Inspirasi itu dibutuhkan untuk mengembangkan imajinasinya.

“Di Pondok Pesantren Putri Al-Amanah ada banyak sekali hal-hal yang bisa menjadi inspriasi untuk membuat tulisan. Di sini sudah ada banyak yang bisa di-eksplor dan diimajinasikan untuk menjadi sebuah tulisan dan dibukukan. Saya yakin kalau santriwati terus diasah kemampuan menulisnya, maka dari Pondok Pesantren Putri Al-Amanah ini lahir penulis-penulis hebat,” tegas Okky.

Peraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa (2012, untuk novel Maryam), ini membeberkan, dari kalangan tokoh Islam termasuk pesantren atau santri ada banyak penulis-penulis hebat dan ternama. Di antaranya H. Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan nama Buya Hamka. Dari kalangan generasi muda, ada nama Ahmad Fuadi.

“Dalam dunia fiksi untuk penulisan novel, segala hal yang kita lihat, kita dengar, kita alami, dan kita rasakan bisa menjadi tulisan,” bebernya.

Okky kemudian membuat garis besar tema dan subtema terkait dengan kehidupan di Pondok Pesantren Putri Al-Amanah. Bahkan Okky berkeinginan dan menantang para santriwati untuk menerbitkan satu buku antologi atau kumpulan tulisan. Setiap satriwati membuat satu tulisan atau cerita. Tulisan atau cerita tersebut nanti dikumpulkan.

“Al-Amanah sudah belum nerbitin buku? Belum kan. Nah dari sini bisa dimulai. Waktunya nggak muluk-muluk, setiap santriwati misalnya menulis satu cerita dan waktunya satu tahun. Wartawan, satu jam harus bisa nulis berita. Nah buku antologi itu akan jadi kenang-kenangan saat nanti satriwati keluar,” ujarnya.

Sabir Laluhu menuturkan, hakikatnya dari pesantren kebiasaan untuk menulis sudah diajarkan dan berlaku. Di pesantren termasuk Pondok Pesantren Putri Al-Amanah ada mata pelajaran ‘al-insya’ yang berarti ‘mengarang’. Artinya tutur Sabir, para santri dan satriwati di kalangan pesantren sudah mengenal ide, inspirasi, dan imajinasi dalam membuat tulisan atau cerita.

Sabir membeberkan, secara intelektual dan penulisan maka dirinya mendapatkannya dari Pondok Pesantren Modern Al-Syaikh Abdul Wahid. Dia menceritakan, Pondok Pesantren Modern Al-Syaikh Abdul Wahid yang kini berusia 25 tahun sudah menghasilkan dua penulis yang sedang menapaki jejak di kancah nasional. Selain Sabir, ada Sairul yang memiliki nama pena Tera Wafa dengan karya buku motivasi ‘Menjadi Prihadi Menarik dalam Sehari’.

Sabir menuturkan, dulu semasa di pesantren dirinya tidak mendapatkan pelajaran pelantihan jurnalistik dan penulisan dengan pembicara dengan level seperti Okky Madasari. Karenanya jika ada Okky dan Sabir yang hadir disertai paparan materi yang sampai pada tataran teknis, maka harusnya Pondok Pesantren Putri Al-Amanah bisa menghasilkan penulis-penulis luar biasa.

“Pondok Pesantren Modern Al-Syaikh Abdul Wahid bisa ada dua penulis, saya dan Sairul. Dua-duanya satu alumni lagi, Star Gradiation 605. Maksud saya Al-Amanah juga harus menghasilkan penulis. Tantangan dari Kak Okky untuk menghasilkan buku antologi yang ditulis satriwati Pondok Pesantren Putri Al-Amanah harus dikongkritkan. Harus ada buku itu,” tegas Sabir.

Dalam konteks penulisan jurnalistik, adik kandung dari ustazah Lina Laluhu ini membeberkan, ada dua karya yang sering dikenal dalam bentuk berita. Keduanya yakni strightnews dan feature. Untuk penulisan dua berita ini sebagian besarnya mencakup unsur 5 W + 1 H. Yakni who (siapa), what (apa), when (kapan), where (di mana), why (kenapa), dan how (bagaimana).

Untuk berita strightnews, maka berita tersebut adalah berita harian yang habis dibaca dalam satu waktu. Sedangkan feature adalah berita ringan dan bisa dibaca kapan pun. Dalam tingkatan lebih tinggi feature dapat ditulis dengan gaya jurnalisme sastrawi.

“Nanti tinggal diberdayakan website Pondok Pesantren Putri Al-Amanah untuk menulis dan memuat berita kegiatan dan aktivitas pondok,” ucapnya.

Di bagian akhir pelatihan, ustadzah Nurmarlina Sabirin dan ustazah Lina Laluhu bersama Okky Madasari berembuk tentang ide penulisan buku antologi karya santriwati. Akhirnya, tutur ustazah Lina Laluhu, ustadzah Nurmarlina Sabirin telah memutuskan setiap satriwati harus dan diwajibkan untuk membuat tulisan dan mengumpulkannya saat akan menjelang liburan. Setiap tulisan paling sedikit 3 halaman HVS dan paling banyak 7-10 halaman.

“Jadi kalian diwajibkan untuk membuat tulisan setiap satriwati, ini syarat untuk libur. Kita akan mulai dari yang Kelas 6 untuk hasilkan buku antologi. Jadi ini wajib sama kayak menghafal Al-Quran untuk liburan. Yang belum mengumpulkan tulisan, tidak bisa liburan,” tegas Lina.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA TERBARU

PENGUMUMAN

AGENDA

16 May 2018

GALLERY

KATA BIJAK

ALAMAT

PRESTASI

KEGIATAN ALUMNI

LOKASI

PENGUNJUNG

VIDEO